6 Jun 2010

Manunggaling Kawula Gusti

. 6 Jun 2010

Syekh Siti Jenar

ssj

Oleh : Abdul Munir Mulkhan

Syekh Siti Jenar(SSJ) merupakan tokoh terkenal di kalangan umat Islam Indonesia, khususnya di kalangan orang Jawa. Namun bisa berbeda sesuai pandangan masing masing terhadap tasawuf dan posisi SSJ sebagai wali diantara wali songo. Selain itu, kehadiran Syekh siti Jenar dalam sejarah Islam dan kebangsaan itu sendiri juga menimbulkan kontroversi, apakah ia benar benar hadir dalam sejarah ataukah tokoh imajiner yang direkayasa untuk suatu kepentingan politik. Ada banyak tafsiran berbeda dan bertentangan tentang ajaran SSJ yang hingga sekarang belum terjernihkan dengan tuntas.

Dalam telaah ajaran SSJ dikatakan bahwa Tuhan memiliki hubungan dengan manusia dan alam ciptaan-Nya. Hubungan itu dapat berbentuk kehadiran Sang Tuhan dalam diri manusia sebagaimana diterangkan dengan konsepsi “widhatul wujud” yang nantinya akan memunculkan konsepsi ittihad. Dalam konsepsi “widhatul wujud” dinyatakan bahwa yang maujud atau segala yang ada ini hanyalah “satu” dan “tunggal” yang tidak dapat dibagi dan atau diduakan. Dengan prinsip itu tidak ada yang maujud dan ada, kecuali Allah belaka, sehingga segala yang tampak ada dalam alam semesta ini hanyalah gambaran dan penampakkan semata mata dari yang ada itu, yakni Allah.

Dengan konsepsi itu tidaklah mengherankan jika Syekh Siti Jenar memiliki pandangan bahwa mereka yang melakukan shalat, puasa, serta amalan syariah, hanyalah orang awam, penuh kepalsuan. Bagi Syekh Siti Jenar inti syariah tidak lain adalah “menyembah” kepada Allah. Menurut SSJ , Allah itu menampak dalam eksistensi makhluk(manusia) dan sebaliknya setiap makhluk atau manusia adalah kenyataan dari Allah. Karena itu tidak ada yang perlu disembah, sebab yang disembah menyatu dan menampak dalam diri yang menyembah. Segala bentuk penyembahan hanyalah kebohongan dan kepalsuan belaka yang tidak perlu, kecuali bagi orang awam. Walaupun demikian masih perlu dikaji lebih lanjut, apa maksud pandangan tersebut dan mengapa ajaran tersebut dikembangkan Syekh Siti Jenar.

Jika menelusuri khazanah pemikiran Islam, akan ditemukan kaitan erat pandangan Syekh Siti Jenar dan pengikutnya dengan sumber ajaran Plato dan filsuf awal Islam seperti Al Farabi, Ibn Sina dan Ibn al Arabi. Lebih jelas lagi jika dikaji dari teori penciptaan dalam konsep emanasi atau nadha-riatul faidl yang bersumber dari pemikiran platonis. Dalam hubungan itu Plato menyatakan bahwa yang “ada sungguh” itu berada dalam dunia”idea”. Idea itu kemudian hadir ke dalam benda benda kongkret yang merupakan bayangan atau gambar dari idea itu.

Konsep emanasi tersebut dapat kita jadikan pintu untuk menarik pengertian atas pandangan yang menyatakan bahwa semua makhluk dan alam semesta ini tersusun dalam suatu susunan yang hierarkis, atau bangunan yang bertingkat tingkat. Sedang puncak dari bangunan atau susunan tersebut ialah Allah yang Satu. Setiap tingkatan berasal dari taraf atau tingkatan yang lebih tinggi, demikian seterusnya bahwa pentarafan itu akan sampai kepada tertinggi ialah Allah. Pertarafan itu terjadi baik ke atas ataupun ke bawah melalui jalan emanasi. Hanya manusia yang memiliki kemampuan melakukan kenaikan ke taraf diatasnya hingga taraf tertinggi Allah. Dari sinilah muncul konsep kasyf dan juga ma’rifat serta lambang-lambang personal yang disebut wali. Disinilah dapat dikenali ajaran Syekh Siti Jenar khususnya tentang konsepsi “manunggaling kawula gusti“.

Menurut Syekh Siti Jenar, kewajiban syara’ dengan kewajiban melakukan berbagai amalan seperti rukun Islam tidaklah perlu ketika puncak penyatuan hamba-Pencipta telah terjadi. Kalau itu harus dilakukan, menurutnya justru merupakan tindakan palsu belaka. Penyatuan hamba Pencipta itu adalah inti terdalam dari syara‘ yang membebaskan manusia dari segala beban hukum. Inilah barangkali dianggap penyimpangan oleh SSJ yang mencelakakannya sendiri dan yang patut mendapat perhatian lebih tajam untuk diteliti lebih lanjut dasar pijak analisis dan pemikirannya. Namun pemikiran SSJ dan ajarannya memperoleh pengesahan dari sumber pemikiran sarjana sarjana Islam sendiri, sebagaimana konsep emanasi plato yang diislamkan dengan konsep “nadha riatul faidl”.

Bagi mereka yang telah menemukan kesatuan dengan hakikat hidup atau dzat Tuhan, segala bentuk peribadatan adalah kepalsuan. Karena Tuhan tidak terkenai hukum ke-alaman yang hawadis atau yang baru, maka manusia yang telah menyatu dalam dzat Tuhan, akan mencapai keabadian seperti Tuhan yang bebas dari segala kerusakan. Puncak penyatuan “kawula gusti” oleh Syekh Siti Jenar disebutnya sebagai “uni nong aning unong” .

Dalam kerangka itulah, ajaran Syekh Siti jenar menjadi menarik untuk dipahami, terutama dalam hubungan dengan kebijakan penguasa yang mematikan kreatifitas serta membungkam setiap perbedaan sebagai cara untuk mengukuhkan kekuasaan politik. Unik serta tragisnya bahwa penyimpangan dalam kasus SSJ dipahami sebagai puncak penemuan mereka atas kebenaran. Bagi mereka hidup di dunia nyata ini hanyalah suatu kepalsuan. Dunia kehidupan ini hanyalah sesuatu yang busuk tanpa arti sedikitpun.

Di sisi lain, kasus SSJ dapat dijadikan kajian betapa Islam sebagai ajaran talah mengakar pada awal mula pertumbuhan Indonesia sebagai bangsa yang besar. Dari kisah dan ajaran SSJ kita bisa mencoba belajar untuk memahami sebuah “dunia” yang barangkali terlalu asing, namun menarik, seperti tasawuf yang dipraktikan Syekh Siti Jenar dan pengikutnya. Tasawuf adalah sistem berpikir dan ajaran yang mengajarkan dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan sebagai tujuan akhir dengan mengembangkan kehalusan rasa dan hati dalam suatu lingkup tindak baik. Namun uniknya, pemikiran SSJ memberikan gambaran praktik tasawuf yang merupakan perpaduan dengan mistik jawa. Suatu integrasi tasawuf di satu sisi dan kebatinan jawa pada sisi yang lain dengan ciri-ciri khas jawa yang sampai hari ini mampu mempertahankan diri dan berkembang menyatu dengan kebudayaan rakyat kebanyakan. Mungkin hal ini dapat dijadikan model pemasyarakatan nilai nilai Islam di Indonesia khususnya Jawa secara mendalam yang kini banyak dilupakan oleh para juru dakwah, bahkan dianggap membahayakan, sebagaimana nasib buruk yang dialami Syekh Siti Jenar dengan pengikut-pengikutnya.

Syekh Siti Jenar mungkin memang bukan seorang tokoh yang pernah hidup dalam ruang sejarah. Namun demikian, kontroversi ajarannya dan sikap oposan para pengikutnya dapat menjadi petunjuk suatu sisi lain dari perkembangan kekuasaan dan penyebaran Islam di Nusantara dan khususnya di Jawa. Dari sinilah kajian mengenai ajaran Syekh Siti Jenar tersebut diharapkan bisa mencapai maksud yaitu sebagai media pengungkapan nilai nilai sejarah atau suatu ajaran di bidang keagamaan khususnya agama Islam. Posisi historis tokoh ini yang masih tersimpan dalam sebuah misteri di dalam khazanah kebudayaan bangsa jika dikaji secar proporsional diharapkan dapat menambah kekayaan bahan dalam menggali nilai budaya Indonesia (Jawa). Demikian pula di dalam memperjelas peran Wali songo dalam perkembangan Islam di kawasan ini.

0 komentar:

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan Jejak Sobat Lewat Komentar.
Maka dengan Serta Merta saya Akan Jelajahi Sobat Kembali

 
Tukar Banner

Friend Banner
Java Script Convert
YOUR BLOG TITLE is proudly powered by o-om.com | Modif by BLOG SulthanYusuf